LASKARWONGKITO.ID — Kabar duka menyelimuti pencinta sepak bola Sumatra Selatan (Sumsel). Sriwijaya FC resmi terdegradasi ke Liga 3 setelah melewati musim kompetisi Pegadaian Championship 2025/2026 tanpa satu pun kemenangan.
Kegagalan total ini mencatatkan sejarah kelam bagi klub kebanggaan masyarakat Sumsel. Tim yang dulu disegani di kancah tertinggi, kini dinyatakan berada dalam kondisi sakit kronis, baik dari segi prestasi di lapangan maupun manajemen finansial.
Direktur Olahraga PT Sriwijaya Optimis Mandiri (SOM), Anggoro Prajesta, mengaku sangat terpukul atas kenyataan pahit yang harus diterima klub berjuluk Laskar Wong Kito itu.
Sepanjang musim, Sriwijaya FC hanya mampu mengoleksi 2 poin dari hasil dua kali imbang dan menelan 25 kekalahan dalam 27 pertandingan yang mereka lakoni.
Akumulasi Krisis Internal dan Finansial
Menurut Anggoro, keterpurukan ini merupakan akumulasi dari masalah internal yang sudah berlangsung lama. Musim ini menjadi periode terburuk bagi klub, terutama setelah dukungan sponsor sangat minim.
Kondisi kian diperparah dengan mundurnya sejumlah pengurus inti, termasuk komisaris utama, di tengah jalannya kompetisi. “Kondisinya memang sudah lama sakit, kronis. Dari sisi finansial dan sponsor ini yang terburuk, akhirnya berimplikasi ke prestasi,” ujar Anggoro pada Selasa, 12 Mei 2026.
Meskipun harus berjuang sendiri menghadapi tekanan finansial dan kritik tajam dari berbagai pihak, Anggoro memilih bertahan. Langkah ini ia ambil demi tanggung jawab moral untuk menyelesaikan kompetisi hingga akhir musim.
Apresiasi untuk Tim dan Harapan Evaluasi Total
Anggoro memberikan apresiasi tinggi kepada jajaran pelatih dan pemain yang tetap menunjukkan profesionalisme. Skuad Laskar Wong Kito tetap bertanding hingga laga terakhir, meski berada dalam situasi operasional yang sangat sulit.
Menutup keterangannya, Anggoro mengibaratkan degradasi ke Liga 3 ini sebagai pil pahit yang harus ditelan. Momentum kejatuhan ini diharapkan menjadi titik balik agar seluruh manajemen bisa berbenah total demi masa depan klub.
“Pastinya sedih, tapi kadang obat itu memang pahit untuk lebih sehat nantinya. Semua demi Sriwijaya FC,” pungkas Anggoro.
Dampak Besar Bagi Sepak Bola Sumsel
Turunnya Sriwijaya FC ke kasta amatir (Liga 3) membawa dampak sosial dan ekonomi yang signifikan bagi ekosistem olahraga di Palembang dan Sumsel. Secara historis, klub ini adalah peraih gelar ganda (Double Winner) pada musim 2007/2008 dan salah satu ikon kebanggaan daerah.
Kehilangan panggung profesional, berarti hilangnya potensi pendapatan daerah dari sektor industri olahraga, seperti penjualan tiket pertandingan di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, merosotnya industri merchandise lokal, hingga berkurangnya minat sponsor besar untuk berinvestasi di olahraga Sumsel.
Keberadaan Sumsel United di Championship diharapkan mampu menjaga gairah sepak bola Palembang, sementara Sriwijaya FC wajib melakukan restrukturisasi total agar tidak selamanya terkubur di Liga 3. (ohs)


